HARAPAN HIDUP

lebih baik hidup bersama orang yang mencintai kita daripada bersama orang yang kita cintai. lebih baik lagi hidup bersama orang yang mencintai dan kita cintai

HARAPAN HIDUP

lebih baik hidup bersama orang yang mencintai kita daripada bersama orang yang kita cintai. lebih baik lagi hidup bersama orang yang mencintai dan kita cintai

IMAM MUSLIM Biografi dan Kitab Shahihnya

Pendahuluan

Sebagian besar umat muslim meyakini bahwa hadis merupakan dalil syar’i terkuat kedua yang bisa digunakan sebagi hujjah dan petunjuk untuk hidup setelah al Quran.

Namun banyaknya hadis dan tidak terkodifikasikannya hadis secara baik pada masa-masa awal islam serta banyaknya hadis-hadis palsu yang beredar di kalangan umat islam membuat umat islam terkadang ragu-ragu untuk menjadikan hadis sebagai pegangan hidup.

Ditengah keragu-raguan serta banyaknya hadis palsu yang beredar khususnya pada masa sekitar abad ke-3 hijriah membuat seorang Imam Muslim tergerak hatinya untuk belajar, menghimpun, menyeleksi, mengkodifikasi, dan bahkan membukukan hadis. dan sekarang kitabnya kita kenal dengan nama Shahih Muslim.

Dalam makalah ini akan coba dipaparkan mengenai biografi Imam Muslim dan karya fenomenalnaya, shahih muslim.

Namun dikarenakan keterbatasan data yang dimiliki penulis dan kekurang mampuan penulis untuk mengakses langsung kitab shahih muslim maka pada pembahasan mengenai kitab ini (yakni mulai dari poin “C” hingga ahir) seluruhnya diambilkan dari tulisan Dadi Nurhaedi, Kitab Shahih Muslim dalam Studi Kitab Hadis.

Pembahasan

  1. Biografi Imam Muslim

Imam Muslim dilahirkan pada tahun 204 H=820 M.[1] Nama lengkap Imam Muslim adalah Abu al Husain Muslim bin al Hajjaj bin Muslim al Qusyairi (nisbat kepada sebuah kabilah arab yang cukup di kenal, Bani Qusyair) [2] al Naisaburi (nisbat kepada tempat kelahiran beliau di Nisabur, sebuah kota kecil di Iran bagian timur-laut).[3] Mayoritas ulama sepakat dan mengakui kemampuan dan kedalaman pengetahuan Imam Muslim dalam periwayatan hadis.

Imam Muslim sudah mulai belajar hadis sejak usia kuarang lebih 12 tahun, Sejak saat itu banyak sekali perjalanan yang telah beliau lakukan untuk mencari hadis. Beliau pernah belajar hadis di Khurasan dan mendengar hadis dari Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawih, dan lain-lain. Belaiu juga pernah di Ray dan mendengar hadis dari Muhammad bin Mahran, Abu Ghassan, dan lain-lain. Di Hijaz beliau mendengar dari Sa’id bin Manshur, Abu Mash’ab, dan lainnya. Di Iraq mendengar dari Ahmad bin Hambal, Abdullah bin Muslimah, dan lain-lain. Di mesir mendengar dari Amr bin Sawad, Hamalah bin Yahya, dan beberapa orang lainnya.[4]

Selain yang telah disebutkan di atas, Imam Muslim masih mempunyai banyak ulama yang menjadi gurunya. Di antaranya adalah : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al Juri, Zuhair bin Harb, Amr al Naqid, Muhammad bin al Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id al Ayli, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.[5]

Adapun ulama-ulama yang meriwatyakan hadis dari beliau banyak sekali, diantaranya: al Tirmidzi, Abu Hatim, al Razi, Ahmad bin Salamah, Musa bin Harun, Yahya bin Sha’id, Muhammad bin Mukhallad, Abu Awanah Ya’kub bin Ishaq al Ishfhira’ini, Muhammad bin Abdul Wahhab al Farra’, Ali bin al Husain bin Muhammad bin Sufyan. Yang disebutkan terahir ini adalah perawi shahih muslim.[6]

Imam muslim juga telah menghasilkan banyak karya tulis, selain kitab shahihnya yang termasyhur ada banyak buku-buku lain yang telah berhasil beliau tulis, diantaranya: al jami’ al kabir, awham al muhaddisin, al tabaqat al Tabi’in, al Mukhadramin, al Shahih al Musnad, dan banyak lagi kitab-kitab lainnya.

Setelah hidup selama kurang lebih 55 tahun akhirnya pada ahad sore 24 rajab 261 H=871 M beliau meninggal dunia dan dimakamkan keesokan harinya di Nasr Abad, suatu daerah dekat Naisabur.

  1. Setting Sosial-Politik

Imam Muslim Hidup pada masa kekhalifahan daulah Abbasiyah yang pusat kekuasaannya berada di kota Baghdad. Beliau hidup pada masa Abbasiyah II, tepatnya ketika kekhalifahan dipegang oleh al Mutawakkil yang memiliki nama asli Ja’far, putera dari khalifah sebelumnya, al Watsiq.[7] Al Mutawakkil berkuasa sejak tahun 232 H=847 M. Pada masa ini keadaan politik dan militer mulai mengalami kemunduran namun dalam bidang ilmu pengetahuan semakin mengalami kemajuan, bahkan sampai abad keempat hijiyah daulah islamiyah mencapai abad keemasan dalam bidang ilmu pengetahuan, termasuk dalam bidang hadis.[8]

Salah satu pemicu ketegangan dan perpecahan yang terjadi dalam umat islam pada masa ini disebabkan adanya perebutan kekuasaan antara keturunan Arab dan keurunan Persia. keturunan persia semakin kuat dan berpengaruh, sementara keturunan arab semakin terpinggirkan.

Pada masa ini, gerakan-gerakan atau aliran-aliran keagamaan banyak bermunculan yang sering sekali dijadikan sebagai alat untuk mencapai kepentingan-kepentingan politik, misalnya gerakan al Rawandiyah, al Muqnna’iyah, al Khuramiyah, dan al Zanadiqah. Banyak juga muncul gerakan-gerakan politik yang beselimutkan agama, yang merupakan kelanjutan dari masa sebelumnya, baik yang mendukung pemerintah maupun yang melakukan oposisi.

Pada masa ini, bahkan sejak abad ke-2 hijriah, telah lahir para mujtahid dalam bidang fiqih dan ilmu kalam. sebenarnya tidak ada pertentangan yang beraarti diantara para mujtahid ini. Namun pertentangan justru terjadi antara para murid dan pengikutnya yang sangat fanatik dan bersikap taqlid, pada kalangan merekalah sering terjadinya konflik yang terkadang juga melibatkan para ulamanya.

Pada abad ketiga ini bentrokan pendapat semakin meruncing, baik antar golongan mazhab fiqih, maupun antar mazhab ilmu kalam. Para ulama hadis masa ini menghadapi golongan mazhab fiqih yang fanatik dan mazhab ilmu kalam, khususnya kaum mu’tazilah yang sangat memusuhi ulama hadis. Dan ketegangan semakin memuncak ketika pemerintah mulai memberikan angin segar kepada kaum mu’tazilah, hal ini mulai terjadi pada masa pemerintahan al Makmun yang pendapatnya sama dengan kaum mu’tazilah, khususnya tentang kemakhlukan al Quran, maka ini menjadi ujian yang lebih berat lagi bagi para ulama hadis.

Keadaan yang tidak menguntungkan bagi ulama hadis ini berlanjut pada masa pemerintahan al Mu’tashim dan al Watsiq. Barulah pada masa pemerintahan al Mutawakkil para ulama hadis mulai mendapatkan angin segar, karena al mutawakkil memiliki kepedulian terhadap al Sunnah.

Keadaan sosial politik diatas sangat berpengaruh sekali terhadap perkembangan hadis. Selain hadis-hadis Nabi semakin tersebar luas ke berbagai wilayah pemalsuan terhadap hadispun semakin merajalela dengan motifasi yang berbeda-beda. Pada masa inilah seorang Imam Muslim hidup dan termotifasi untuk belajar hadis, menghimpun, menyeleksi, mengkodifikasi, dan bahkan membukukannya.

Setidaknya ada dua motifasi yang melatarbelakangi imam muslim untuk menulis kitab hadis. Pertama, sulitnya mencari referensi koleksi hadis yang memuat hadis-hadis shahih dengan kandungan yang relatif komprehensif dan sistematis pada masa beliau. Kedua, adanya kaum zindiq yang selalu berusaha membuat dan menyebarkan hadis-hadis palsu serta mencampuradukan antara hadis-hadis yang shahih dan yang tidak.[9]

Kitab shahih muslim muncul muncul pada sekitar abad ke-3 hijriah, yaitu pa da masa pemurnian, penyehatan, dan penyempurnaan. Pada masa ini kegiatan ulama hadis antara lain mengadakan lawatan ke daerah-daerah yang jauh, mengadakan klasifikasi hadis yang marfu’, mauquf, dan maqtu’. Selain itu juga mengklasifikasikan kualitas hadis menjadi shahih dan dhaif. Mereka juga menghimpun kritik-kritik yang dilontarkan oleh ulama kalam dan lain-lain, baik yang ditujukan pada para periwayatnya, maupun pada matannya. Mereka juga menyusun kitab-kitab hadis secara sistematis.[10]

  1. Kitab Shahih Muslim

Judul aslinya adalah al Musnad al Shahih al Mukhtashar min al Sunan bi al Naql al ‘Adl ‘an al ‘Adl ‘an Rasul Allah saw. Namun kitab ini lebih populer dengan sebutan al Jami’ al Shahih atau Shahih Muslim.

Kitab ini disusun kurang lebih selama lima belas tahun, mulai dari persiapannya sampai selesai sebagai sebuah kitab. Penulisannya dilakukan secara terus menerus, baik ketika beliau sedang berada di tempat tinggalnya maupun ketika berada di tempat persinggahannya.

Banyak sekali pendapat mengenai jumlah hadis yang terdapat dalam kitab ini, ada yang mengatakan 12.000 hadis, ada pula pendapat yang mengatakan jumlahnya 7.275 hadis. Dr. Ajjaj al Khatib berpendapat bahwa jumlah hadis yang terdapat dalam kitab shahih Muslim – tidak termasuk yang diulang-ulang – berjumlah 3.030 hadis, sedangkan jumlah keseluruhan hadis termasuk yang diulang-ulang atau melalui sanad yang berbeda-beda berjumlah sekitar 10.000 hadis.

Perbedaan pendapat tentang jumlah hadis yang terdapat dalam kitab ini dapat dipahami dan dapat dikompromikan, mengingat ada yang menghitung hadis yang diulang-ulang dan ada yang tidak.

Pada awalnya kitab shahih muslim ini disebarkan menggunakan model diperdengarkan. Secara garis besar penyebaran atau periwayatannya melalui dua jalur, ke arah timur melalui jalur Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan dan kearah barat melalui Abu Muhammad Ahmad bin Ali.

  1. Sistematika Shahih Muslim

Secara sistematika penulisan, Shahih Muslim disusun dengan sangat sistematis. Setelah muqaddimah beliau mengelompokan hadis yang berkaitan dalam satu tema atau masalah pada satu tempat. Namun perlu diketahui bahwa beliau tidak membuat nama atau judul kitab (dalam arti bagian) dan bab bagi kitabnya secara kongkrit, sebagaimana kita dapati pada shahih muslim yang umum beredar sekarang. Judul-judul kitab dan bab ini dibuat oleh para pengulas kitab shahih muslim pada masa berikutnya. Diantara para pengulas yang dinilai sangat baik dalam membuat kreasi judul-judul bab dan sistematika bab-babnya adalah imam al Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim.

Sistematika penulisan kitab ini mengguanakan model kitab-kitab sunan, yakni kitab-kitab yang bab-babnya disususun berdasarkan bab-bab fiqih. Hal ini bisa jadi karena pada masa penulisan, kitab fiqih sangat dominan di kalangan umat islam. Secara garis besar urutan bab-babnya dimulai dari bab iman, ibadah, muamalah, jihad, makanan dan minuman, pakaian, adab, dan keutamaam-keutamaan, serta diakhiri dengan kitab tafsir.

Meskipun penulisan kitab ini menggunakan model kitab sunan, namun ada beberapa hal yang membedakan kitab shahih muslim dengan kitab-kitab hadis lain yang menggunakan model penulisan yang sama. Perbedaannya antara lain: Imam Muslim memisahkan kitab sifat al munafiq dari kitab al Iman, kitab al Ilm ditempatkan pada posisi akhir, hadis-hadis tentang adab diperinci menjadi beberapa kitab. Selain kitab al adab, ada pula kitab al salam, padahal dapat dimasukan dalam kitab al adab. Ada juga kitab al Birr wa al Shilah wa al Adab.

  1. Metode Penulisan

Imam Muslim menggunakan metode yang sangat bagus dalam penysunan kitabnya. Matan-matan hadis yang senada atau satu tema dihimpun pada satu tempat lengkap dengan sanad dan matannya, tidak memotong atau memisah-misahkannya dalam beberapa bab, dan beliau juga tidak mengulang penyebutan hadis kecuali dalam jumlah sedikit karena adanya kepentingan yang mendesak yang menghendaki adanya pengulangan, seperti untuk menambah manfaat pada sanad atau matan hadis.

Kata-kata atau lafal-lafal yang digunakan dalam proses periwayatan hadis juga dipilih secara cermat, jika perawi yang meriwayatkan hadis menggunakan redaksi yang berbeda dengan hadis lainnya padahal maksudnya sama, maka beliaupun menjelaskannya.

Dalam memasukan hadis-hadis ke dalam kitabnya, Imam Muslim tidak menjelaskan syarat tertentu secara eksplisit. Namun demikian, para ulama telah meneliti syarat-syaratnya itu melalui pengkajian terhadap kitabnya. Kesimpulan penelitian mereka menyatakan bahwa syarat yang digunakan Imam Muslim dalam kitabnya antara lain: pertama, hanya meriwayatkan hadis dari perawi yang ‘adil dan dhabit, dapat dipertanggung jawabkan kejujurannya, serta amanah. Kedua, hanya meriwayatkan hadis-hadis yang sanadnya lengkap (musnad), sanadnya bersambung (muttasil), dan disandarkan kepada Nabi (marfu’).

Kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang syarat-syarat yang dipakai dalam kitabnya dalam muqaddimah kitab ini, sebagaimana yang dikemukakan Imam Nawawi dalam syarhnya. Beliau mengkategorikan hadis kepada tiga macam:

  1. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang ‘adil dan dhabit.
  2. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi yag tidak diketahui keadaannya (mastur) dan kekuatan hafalannya biasa-biasa saja.
  3. Hadis-hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang lemah hafalannya dan perawi yang hadisnya ditinggalkan orang.

Dari ketiga kategori diatas, apabila Imam Muslim telah selesai meriwayatkan hadis pada kategori pertama, beliau senantiasa menyertakan hadis kategori berikutnya. Sedangkan hadis kategori ketiga, beliau tidak meriwayatkannya.

Setelah selesai menyusun kitabnya, beliau memperlihatkan kitabnya kepada para pakar hadis terkemuka, salah satunya adalah seorang huffaz Makki bin ‘Abdan dari Naisabur. Beliau berkata: “Saya mendengar muslim berkata: “Aku perlihatkan kitabku ini kepada Abu Zur’ah al Razi. Semua hadis yang diisyaratkan al Razi ada kelemahannya, maka aku meninggalkannya. Dan semua hadis yang dikatakan shahih, maka itulah yang aku riwayatkan.” Hal yang seperti ini menunjukan ke-tawadu’-an dan kerendahan hati beliau.

Imam Muslim juga sangat berhati-hati dalam memilih atau menyeleksi hadis. Beliau senantiasa berdasar pada argumen yang jelas. Beliau pernah menuturkan: “aku tidak mencantumkan satu hadispun dalam kitabku ini melainkan ada alasannya, dan aku tidak menggugurkan satu hadispun melainkan ada alasannya.”

  1. Beberapa Penilaian terhadap Shahih Muslim

Menurut para ulama hadis kitab Shahih Muslim ini memiliki banyak kelebihan, diantaranya: susunan isinya sangat tertib dan sistematis, pemilihan redaksi matan hadisnya sangat teliti dan cermat, seleksi dan akumulasi sanadnya sangat teliti, tidak tertukar-tukar, tidak lebih dan tidak kurang, penempatan dan pegelompokan hadis kedalam tema atau tempat tertentu, sehingga sedikit sekali terjadi pengulangan penyebutan hadis.

Para ulama juga menilai bahwa shahih muslim merupakan salah satu kitab hadis paling shahih diantara kitab-kitab hadis lainnya. Bahkan seorang Dar al Quthni dengan nada yang sedikit menyanjung pernah berkata, “seandainya tidak ada Bukhari dan Muslim, maka pembahasan hadis tidak akan muncul.”

Adapun hadis-hadis yang terdapat dalam kitab ini pada umumnya berkualitas shahih atau dinilai shahih oleh sebagian besar ulama hadis.

Penutup

Imam Muslim adalah salah seorang ulama besar dalam bidang hadis, sumbangannya terhadap bidang keilmuan hadis sangat besar. Kitab shaih muslim yang beliau susun secara sistematipun memberikan banyak manfaat dan kemudahan bagi para pelajar hadis setelahnya.

Demikianlah sedikit pembahasan mengenai biografi Imam Muslim dan kitabnya yang dapat penulis tampilkan, semoga dapat bermanfaat.

Daftar Pustaka

Nurhaedi, Dadi, Kitab Shahih Muslim dalam Studi Kitab Hadis, Yogyakarta: Teras, 2009.

Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002.

Watt, W. Montgomery, Kejayaan Islam, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1990.

www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/6912–sejarah-imam-muslim-dan-karya-karyanya.html diakses pada hsri Rabu, 13 Mei 2009 17:27


[1] Dadi Nurhaedi, Kitab Shahih Muslim dalam Studi Kitab Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2009), Hal. 56

[2] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), Hal. 366

[3] Dadi Nurhaedi, Kitab Shahih Muslim dalam Studi Kitab Hadis…, Hal. 56

[4] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis…, Hal. 367

[5] http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/6912–sejarah-imam-muslim-dan-karya-karyanya.html diakses pada hsri Rabu, 13 Mei 2009 17:27

[6] Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis…, Hal. 367.

[7] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 1990), hal. 157.

[8] Dadi Nurhaedi, Kitab Shahih Muslim dalam Studi Kitab Hadis…, Hal. 62.

[9] Dadi Nurhaedi, Kitab Shahih Muslim dalam Studi Kitab Hadis…, Hal. 64.

[10] Dadi Nurhaedi, Kitab Shahih Muslim dalam Studi Kitab Hadis…, Hal. 64-65

Beberapa Ayat al Quran Tentang Masyarakat dan Penafsirannya

Pendahuluan

Al Qur’an sebagai kitab pedoman utama bagi manusia mencakup semua aspek kehidupan manusia baik yang tersirat maupun yang tersurat, yang terperinci maupun yang umum. Diantara kandungan al Qur’an ada ayat-ayat yang berbicara tentang masyarakat.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia masyarkat terdiri dari empat suku kata yaitu ma.sya.ra.kat yang memiliki arti sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.[1] Dalam bahasa inggris disebut dengan society yang memiliki arti kurang lebih sama dengan yang ada dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu a system in which people live together in organized communities; people in general.[2]

Dalam makalah ini akan coba disajikan ayat-ayat yang berbicara tentang masyarakat dan beberapa penafsiran mengenai ayat-ayat tersebut. Dengan harapan kita dapat lebih meyakini al Quran sebagai pedoman kita dan menjadikannya pedoman dalam menjalani kehidupan kita.

Pembahasn

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang yang selalu memiliki ketergantungan, bahkan sejak ia masih berupa segumpal darah dalam rahim seorang wanita. Hal ini tergambar dari wahyu pertama ayat kedua yang diterima oleh Nabi. Sebagaimana yang dijelaskan Quraish Shihab bahwa makna dari khalaqal insana min ‘alaq bukan saja diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau sesuatu yang berdempet di dinding rahim”,  tetapi dapat dipahami juga sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri”. Jadi mnusia akan slalu bergantung pada segala apa yang ada disekitarnya.

Dalam dunia sosial masyarakat, manusia memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan dan status sosial yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini juga tergambar dalam Q. s.al Zukhruf 43:32

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Tafsir Mufrodat

ربك = kafnya merujuk kepada Nabi muhammad[3]

معيشتهم, diambil dari kata عيش = penghidupan mereka

سخريا dari kata sukhira atau sukhara = sesuatu yang dipaksa atau diejek.

Dalam tafsir al Quran yang disusun oleh tim departemen agama Republik Indonesia, ayat diatas berbicara mengenai penolakan terhadap keinginan kaum musyrik yang tak mau menerima penunjukan Muhammad sebagai Rasul; dan mereka merasa seakan-akan merekalah yang berhak menentukan siapa yang pantas menerima rahmat. Padahal dalam ayat ini jelas sekali bahwa Allah lah yang berhak dan berwenang mengatur rahmat bagi makhluk hidup.

Adapun hikmah yang dapat diambil dari adanya perbedaan tingkat yang telah diberikan Allah adalah supaya manusia dapat saling membantu antara satu dengan yang lainya dan agar terjadi persaingan. Karena jika tidak ada persaingan dan keinginan untuk saling membantu maka akan terjadi kencuran dan kerusakan di dunia.[4] Karena ssetiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda-beda maka bukan berarti yang kuat boleh menindas yang lemah, yang satu merasa lebih baik dari yang lain dan kemudian menjelek-jelekannya.

Larangan Saling Menghina Antar Sesama Manusia

Q. s al An’am 6:108

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Tafsir mufradat

تسب, dari kata سب = ucapan yang mengandung makna penghinaan terhadap sesuatu.

الذين= menunjukkan kepada berhala-berhala sesembahan kaum musyrikin.

عدوا = permusuhan dan melampaui batas.

Latar belakang turunnya ayat ini sebagaimana terdapat dalam al Quran dan tafsirnya bahwasanya larangan kaum muslimin memaki berhala sesembahan orang-orang musyrik, karena orang-orang musyrik akan memaki Allah dengan melampaui batas dan mereka akan lebih jauh dari Allah. Pelajaran yang dapat diambil dari tafsiran ini mengenai masyarakat adalah bahwasanya saling memaki-maki antar sesama manusia dilarang oleh agama. Hal tersebut selain merugikan orang lain, dengan tidak disangkapun  pastilah merugikan diri sendiri. Sesuatu perbuatan apabila dipergunakan untuk terwujudnya perbuatan lain yang maksiat, maka seharusnyalah ditinggalkan, dan segala perbuatan yang menimbulkan akibat buruk, maka perbuatan itu terlarang.[5]

Dalam kenyataannya setiap manusia selalu menganggap apa yang mereka kerjakan adalah baik. Ukuran baik dan buruk atas perbuatan biasanya diukur dengan penilian yang timbul dalam manusia sendiri. Hanya saja persoalan seperti ini termasuk persoalan yang ikhtiyari dan Allah telah memberikan naluri kepada manusia agar dapat menilai perbuatan dan kebiasaan tersebut apakah baik ataupun buruk. Adapun Asbab al Nuzul dari ayat diatas berdasarkan hadis berikut:

pada suatu ketika orang-orang islam memaki-maki berhala, sesembahan orang-orang kafir, kemudian mereka dilarang dari memaki-maki itu. (Riwayat Abdurrazak dari Qatadah).[6]

Dalam ayat diatas juga terdapat makna bahwa setiap masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan hidup masing-masing. Setiap masyarakat melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut dan inilah yang melahirkan watak dan yang khas dari setiap masyarakat.[7] Makna tersebut dapat kita temukan pada akhir ayat di atas.

“Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Keadaan masyarakat dengan sistem nilai yang dianutnya mempunyai pengaruh terhadap sikap dan cara pandang masyarakat itu sendiri. Jika sistem nilai yang mereka anut terbatas pada apa yang ada sekarang dan tidak berkembang serta merasa puas dengan apa yang ada, maka upaya dan ambisinya akan berhenti dan tidak ada keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Allah menjajikan masyarakat yang seperti ini memang bisa saja maju. Akan tetapi kemajuannya hanya terbatas pada apa yang telah mereka capai saja, kemudian setelah itu mereka akan jenuh, mandek, akibat rutinitas, kemudian menemui ajalnya[8]. Hal ini tergambar dalam al Quran surat al Isra’ 17:18.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”

Tafsir mufrodat QS. 17: 18.

يريد = menghendaki

العلجلة = dunia

Dalam ayat ini disebutkan dua golongan manusia yaitu golongan yang mencintai kehidupan dunia, dan golongan yang mencintai kehidupan akhirat.[9] Disebutkan juga bahwa Allah akan menyegerakan keinginan manusia atas nikmat yang mereka inginkan.

Kebanyakan Manusia yang hanya memikirkan kenikmatan di dunia sejatinya tidak mempercayai hari kebangkitan dan pembalasan atas semua pekerjaan yang mereka lakukan di dunia. Yang pasti akan diperhitungkan. Haruslah diingat bahwasannya kenikmatan yang didapat di dunia adalah sementara. Itulah sebabnya mengapa Allah menyebutkan kehidupan di dunia dengan kemewahaanya, dapat diperoleh dengan segera akan tetapi segera pula musnah.

Selan itu, Allah mengancam manusia yang hanya memikirkan kemewahan dunia dengan balasan neraka jahnnam karena pada hakikatnya manusia hidup di dunia untuk mencari keridhoan-Nya.

Adapun penafsiran al Qurtubi terhadap ayat ini adalah sebagai berikut:

من كان يريد العاجلة عجلنا له فيها ما نشاء لمن نريد ثم جعلنا له جهنم يصلها مذموما مدحورا ومن أراد الاخرة وسعى لها سعيها وهو مؤمن فأولك كان سعيهم مشكورا قوله تعالى: (من كان يريد العلجلة) يعنى الدنيا، والمراد الدار العاجلة، فعبر بالنعت عن المنعوت.

(عجلنا له فيها ما نشاء لمن نريد) أي لم نعطه منها إلا ما نشاء ثم نؤاخذه بعمله، وعاقبته دخول النار.

(مذموما مدحورا) أي مطردا مبعدا من رحمة الله.

وهذه صفة المنافقين الفاسقين، والمرائين المداجين، يلبسون الاسلام والطاعة لينالوا عاجل الدنيا من الغنائم وغيرها، فلا يقبل ذلك العمل منهم في الآخرة ولا يعطون في الدنيا إلا ما قسم لهم.

وقد تقدم في ” هود أن هذه الآية تقيد الآيات المطلقة، فتأمله.

(ومن أراد الآخرة)

أي الدار الآخرة.

(وسعى لها سعيها) أي عمل لها عملها من الطاعات.

(وهو مؤمن) لان الطاعات لا تقبل إلا من مؤمن.

(فأولئك كان سعيهم مشكورا) أي مقبولا غير

Perubahan Harus Dilakukan dari Diri Sendiri

Q. s. Al Anfal 8:53

“(siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Tafsir mufradat.

لم يك = tidak akan

قوم= kaum atau masyarakat

نفس, bentuk jamak dari أنفس= manusia

Dalam ayat ini Allah ingin menegaskan bahwa Dia tidak akan merubah nikmat suatu kaum, sehingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Selain itu kenikmatan yang diterima oleh suatu kaum ataupun perorangan juga tergantung kepada akhlak dan amal mereka itu sendiri.[10]

Adapun penafsiran yang diberikan al Qurtubi terhadap ayat ini adalah sebagai berikut:

قوله تعالى: ذلك بأن الله لم يك مغيرا نعمة أنعمها على قوم حتى يغيروا ما بأنفسهم وأن الله سميع عليم (53)

تعليل.

أي هذا العقاب، لانهم غيروا وبدلوا، ونعمة الله على قريش الخصب والسعة، والامن والعافية.

” أو لم يروا أنا جعلنا حرما آمنا ويتخطف الناس من حولهم ” [ العنكبوت: 67 ] الآية.

وقال السدي: نعمة الله عليهم محمد صلى الله عليه وسلم فكفروا به، فنقل إلى المدينة وحل بالمشركين العقاب.

قوله تعالى: كدأب آل فرعون والذين من قبلهم كذبوا بآيات ربهم فأهلكنا هم بذنوبهم وأغرقنا آل فرعون وكل كانوا ظالمين ليس هذا بتكرير، لان الاول للعادة في التكذيب، والثاني للعادة في التغيير، وباقي الآية بين.

قوله تعالى: إن شر الدواب عند الله الذين كفروا فهم لا يؤمنون الذين عاهدت منهم ثم ينقضون عهدهم في كل مرة وهم لا يتقون

Penutup

Demikianlah sdikit data yang dapat kami sampaikan mengenai ayat-ayat al Quran yang berkatian dengan masyarakat.

Dengan berbagi keunikan dan tingkatan yang ada antara satu masyarakt dengan masyarakat lainnya adalah merupakn sunnah Allah agar manusia dapat saling membantu dan melengkapi, bukan malah menjadikan satu masyarakat merasa lebih superir dari masyarakat lainnya sehingga merasa berhak untuk memandangnya sebelah mata bahkan menjelek-jelekannya.

Setiap manusia diberikan akal dan kemampuan untuk berusaha maka sudah seharusnyalah manusia itu berusaha untuk terus maju dan memperbaiki hidupnaya karena perubahan juga terganntung kepada diri kita.

Semoga bermanfaat…

Daftar pustaka

Kamus besar bahasa Indonesia, Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

A S Hornby, oxford advanced learner’s dictionary, fifth edition, oxford university press, 1995

M. Quraish Shihab. Wawasan al Quran, Bandung: mizan, 2007.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya , jilid III,Yogyakarta: PT Dana bhakti wakaf [milik badan wakaf UII], 1990.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz IV.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz V.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz IX.


[1] Kamus besar bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2005),  hal. 721.

[2] A S Hornby, oxford advanced learner’s dictionary, fifth edition (oxford university press, 1995), hal. 1128.

[3] bertujuan menekankan serta menggarisbawahi bahwasannya pemeliharan dan bimbingan Allah selalu tertuju kepada beliau, dan bahwa pemilihan beliau sebagai penerimaan dan penyampaian al-Qur’an adalah berdasarkan pilihan Allah.

[4] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya ,jilid IX (Yogyakarta: PT Dana bhakti wakaf [milik badan wakaf UII], 1990), hal. 114

[5] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz III, hlm. 242

[6] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz III, hlm. 242

[7] M. Quraish Shihab. Wawasan al Quran, (Bandung: mizan, 2007), hal. 423

[8] M. Quraish Shihab. Wawasan al Quran hal. 423

[9] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz V,  hlm. 546

[10]Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz IV, hal. 19

hadis Nabi tentang kejujuran

Pendahuluan

Kejujuran adalah sembuah kata yang tidak asing lagi bagi kita, Bahkan seorang Imam Ibnu al Qayim mengatakan bahwa iman asasnya adalah kejujuran dan nifaq asasnya adalah kedustaan.

Begitu pentingnya kejujuran bagi seorang manusia. Karena kejujuran, manusia bisa selamat dari bahaya, mendapat jabatan tinggi, bahkan karena kejujuran manusia bisa masuk surga. Agama islam sangat menekankan sekali sifat kejujuran pada diri setiap penganutnya, hal ini tergambar dari banyaknya dalil syar’i yang berbicara tentang hal ini, salah satunya adalah hadis yang berbunyi:

عليكم بالصدق فإن الصدق يهدى إلى البر وإن البر يهدى إلى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب الله صديقا وإياكم والكذب فإن الكذب يهدى إلى الفجور وإن الفجور يهدى إلى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب الله كذابا

“berpeganglah kalian kepada kejujuran, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Senantiasa seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicataat oleh Allah sebagai orang yang yang jujur. Berhati-hatilah kalian akan dusta, karena dusta akan membimbing kepada kecurangan, dan kecurangan[1] akan membimbing ke neraka. Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakan berbuat dusta hingga Allah mencatatnya sebagi pendusta.”

Hadis diatas cukup populer dikalangan umat islam, namun sedikit sekali umat islam yang mengetahui siapa saja yang meriwayatkan hadis tersebut dan melalui siapa hadis ini diriwayatkan serta bagaimana kedudukan hadis ersebut.

Makalah sederhana  ini akan coba menjawab dan mengungkap pertanyaan-pertanyaan diatas yang kemudian dilanjutkan dengan sedikit pembahasan mengenai kejujuran, manfaat dan larangan melakukan hal sebaliknya.

Pembahasan

  1. Takhrij dan Tahqiq

setelah penulis melakukan takhrij dengan salah satu metode yang dikemukakan oleh Abu Muhammad ‘Abd al Muhdi dan Mahmud al Thahhan yakni takhrij melalui lafal pertama matan hadis[2], adapun kitab-kitab rujukan penulis menggunakan software al maktabah al syameela al ishdar al tsani.

Dalam pencarian yang dilakukan ditemukan sekurang-kurangnya enam matan hadis yang memiliki makna yang kurang lebih sama dengan matan hadis yang ada pada pendahuluan. Hadis-hadis tersebut terdapat pada kitab muatha’ imam malik, shahih muslim, sunan al tirmidzi, musnad ahmad, dan shahih Ibnu Hibban. Sebagai perbandingan hadis-hadis tersebut akan ditampilkan lengkap dengan sanadnya, sebagai berikut:

Muatha malik juz VI hal. 130

Imam Malik meiwayatkan hadis ini dari Malik dari Abdullah bin Mas’ud

و حَدَّثَنِي مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَالْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ أَلَا تَرَى أَنَّهُ يُقَالُ صَدَقَ وَبَرَّ وَكَذَبَ وَفَجَرَ و حَدَّثَنِي مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّهُ قِيلَ لِلُقْمَانَ مَا بَلَغَ بِكَ مَا نَرَى يُرِيدُونَ الْفَضْلَ فَقَالَ لُقْمَانُ صِدْقُ الْحَدِيثِ وَأَدَاءُ الْأَمَانَةِ وَتَرْكُ مَا لَا يَعْنِينِي و حَدَّثَنِي مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ كَانَ يَقُولُ لَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَتُنْكَتُ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّى يَسْوَدَّ قَلْبُهُ كُلُّهُ فَيُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْكَاذِبِينَ

Shahih muslim juz XIII, hal. 16

  • Imam muslim meriwayatkan hadis ini melalui dua jalur
  • Jalur pertama: dari Muhammad bin Abdillah bin Numair dari Abu Muawiyah dan Waki’ dari al A’masy
  • Jalur kedua: dari Abu Kuraib dari Abu Muawiyah dari al A’masy dari Syaqiq dari Abdullah

4721- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Sunan al tirmidzi juz VII hal. 238

  • Para periwayatnya adalah: dari Hannad dari Abu Muawiyah dari al A’masy dari Syaqiq bin Salamah dar Abdullah bin Mas’ud

1894 – حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ شَقِيقِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَعُمَرَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ وَابْنِ عُمَرَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Musnad ahmad juz VII hal. 491

  • Para periwayatnya adalah: Abu Muawiyah dari al A’masy dari Syaqiq dari Abdillah

3456 – حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ كَذَّابًا

Musnad ahmad juz VIII hal. 434

  • Para periwayatnya adalah: dari Waki’ dan Abu Muawiyah dari al A’masy dari Abi Wa’il dari Abdillah

3899 – حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا وَقَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ يَعْنِي الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ

Shaih ibnu hibban juz II hal. 35

  • Para periwayatnya adalah: dari Abdillah bi Muhammad al Azadi dari Ishaq bin Ibrahim dari jurair dari mansur dari Abi Waail dari Abdillah

273 – أخبرنا عبد الله بن محمد الأزدي ، قال : حدثنا إسحاق بن إبراهيم ، قال : أخبرنا جرير ، عن منصور ، عن أبي وائل ، عن عبد الله ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « عليكم بالصدق فإن الصدق يهدي إلى البر ، وإن البر يهدي إلى الجنة ، وإن الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا ، وإن الكذب يهدي إلى الفجور ، وإن الفجور يهدي إلى النار ، وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا »

Secara umum hadis-hadis diatas memiliki makna yang kurang lebih sama yakni anjuran berkata jujur dan larangan berbohong. Adapun dalam segi kualitas sejauh pengetahuan penulis terhadap periwayat-periwayat yang ada pada hadis yang diriwayatkan oleh muslim semuanya adalah perawi yang tsiqah yang dapat diterima hadisnya kecuali Abu Muawiyah yang dianggap majhul oleh Ibnu Hajar namun hal ini tidak mengurangi kualitas hadis karena al A’masy juga mendengar hadis dari Waki’ yang tsiqah. Keshahihan hadis yang diriwayatkan Muslim ini secara tidaklangsung mengindikasikan bahwa hadis-hadis yang terdapat diatas juga derajatnya tidak akan kurang dari hasan dan makbul karena ada hadis semakna yang derajatnya shahih.

  1. keutamaan orang yang jujur dan larangan berbuat sebaliknya

Syarh al nawawi ‘ala muslim bab juz VIII hal. 429

قَالَ الْعُلَمَاء : مَعْنَاهُ أَنَّ الصِّدْق يَهْدِي إِلَى الْعَمَل الصَّالِح الْخَالِص مِنْ كُلّ مَذْمُوم ، وَالْبِرّ اِسْم جَامِع لِلْخَيْرِ كُلّه . وَقِيلَ : الْبِرّ الْجَنَّة . وَيَجُوز أَنْ يَتَنَاوَل الْعَمَل الصَّالِح وَالْجَنَّة . وَأَمَّا الْكَذِب فَيُوصِل إِلَى الْفُجُور ، وَهُوَ الْمَيْل عَنْ الِاسْتِقَامَة ، وَقِيلَ ؛ الِانْبِعَاث فِي الْمَعَاصِي .

قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَإِنَّ الرَّجُل لَيَصْدُق حَتَّى يُكْتَب عِنْد اللَّه صِدِّيقًا ، وَإِنَّ الرَّجُل لَيَكْذِب حَتَّى يُكْتَب عِنْد اللَّه كَذَّابًا ) وَفِي رِوَايَة ( لِيَتَحَرَّى الصِّدْق وَلِيَتَحَرَّى الْكَذِب ) وَفِي رِوَايَة ( عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْق يَهْدِي إِلَى الْبِرّ . وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِب ) قَالَ الْعُلَمَاء : هَذَا فِيهِ حَثٌّ عَلَى تَحَرِّي الصِّدْق ، وَهُوَ قَصْده ، وَالِاعْتِنَاء بِهِ ، وَعَلَى التَّحْذِير مِنْ الْكَذِب وَالتَّسَاهُل فِيهِ ؛ فَإِنَّهُ إِذَا تَسَاهَلَ فِيهِ كَثُرَ مِنْهُ ، فَعُرِفَ بِهِ ، وَكَتَبَهُ اللَّه لِمُبَالَغَتِهِ صِدِّيقًا إِنْ اِعْتَادَهُ ، أَوْ كَذَّابًا إِنْ اِعْتَادَهُ . وَمَعْنَى يُكْتَب هُنَا يُحْكَم لَهُ بِذَلِكَ ، وَيَسْتَحِقّ الْوَصْف بِمَنْزِلَةِ الصِّدِّيقِينَ وَثَوَابهمْ ، أَوْ صِفَة الْكَذَّابِينَ وَعِقَابهمْ ، وَالْمُرَاد إِظْهَار ذَلِكَ لِلْمَخْلُوقِينَ إِمَّا بِأَنْ يَكْتُبهُ فِي ذَلِكَ لِيَشْتَهِر بِحَظِّهِ مِنْ الصِّفَتَيْنِ فِي الْمَلَأ الْأَعْلَى ، وَإِمَّا بِأَنْ يُلْقِي ذَلِكَ فِي قُلُوب النَّاس وَأَلْسِنَتهمْ ، وَكَمَا يُوضَع لَهُ الْقَبُول وَالْبَغْضَاء وَإِلَّا فَقَدَر اللَّه تَعَالَى وَكِتَابه السَّابِق بِكُلِّ ذَلِكَ . وَاَللَّه أَعْلَم .

Sebagimana makna yang terkandung secara jelas dari hadis-hadis diatas bahwa orang yang jujur lebih dekat kepada surga. Secara rasio hal yang demikian dapatlah dipahami dengan mudah, karena jika seseorang selalu berkata jujur maka secara otomatis dosanya tidak bertambah akibat kebohongan, dan ketika seseorang bisa memperkecil dosanya maka ia juga akan lebih dekat kepada surga. Begitu juga sebaliknya bagi orang yang berbohong.

Setiap manusia dalam kehidupan sosialnya hendaknya tidak takut untuk berkata jujur dan menghindari kebohongan, apalagi kebohongan itu dilakukan hanya karena takut kepada manusia lainnya, atau karena tamak terhadap kehidupan dunia. Larangan berbohong karena takut kepada manusia lainnya juga sesuai dengan hadis Nabi “janganlah kewibawaan manusia menghalangi seseorang untuk berkata benar manakala dia mengetahuiya”[3]

Penutup

Setiap manusia harus memelihara lisannya dari semua perkataan, kecuali perkataan yang tampak baik. Sebuah perkataan yang jika diucapkan atau tidak diucapkan, kebaikannya sama, maka lebih baik hal itu tidak diucapkan karena biasannya jika hal yang seperti ini diucapkan justru malah membahayakan.

Hati-hatilah dalam menjaga lisan, bahkan penyairpun berkata

احفظ لسانك ايها الانسان

لايلد غنك انه ثعبان

كم في لمقابر من قتيل لسانه

كانت تهاب لقاءه الشجعان

Wahai manusia, peliharalah lidahmu,

Jangan sampai menyengatmu, karena sesunggunya lidah bagaikan seekor ular berbisa

Banyak di dalam kubur orang yang mati karena lidahnya

Takutilah lidahmu (seperti) seseoarang takut bertemu dengan seekor ular berbisa.

Luka-luka karena pisau dapat terobati, tapi luka kerena lisan kemana obat hendak dicari. Terima kasih.

Daftar Pustaka

Ahmad, Arifuddin, paradigma baru memahami hadis Nabi, Jakarta: Renaisan,  2005.

al Albani, Syaikh Muhammad Nashiruddin, Silsilah Hadis shahih buku I, terj. M. Qodirun Nur, Solo: Pustaka Mantiq, 1997.

Baqi, Muhammad Fuad ‘Abdul, al lu’-lu’ wa almarjan, terj. Salim Bahreisy, Surabaya: Bina Ilmu,

Al Fasyani, Syekh Ahmad ibnu Syekh Hijazi, al Majalisus saniyyah syarah hadis arba’in nawawi, terj. Sofyan Suparman, Bandung: Trigenda Karya, 1995.

Software al maktabah al syameela al ishdar al tsani


[1] Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi, al lu’-lu’ wa almarjan, terj. Salim Bahreisy, (Surabaya: Bina Ilmu, ), hal. 995

[2] Arifuddin Ahmad, paradigma baru memahami hadis Nabi, (Jakarta: Renaisan,  2005), hal. 72

[3] Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah Hadis shahih buku I, terj. M. Qodirun Nur, (Solo: Pustaka Mantiq, 1997), Hal. 379.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.