Beberapa Ayat al Quran Tentang Masyarakat dan Penafsirannya

Pendahuluan

Al Qur’an sebagai kitab pedoman utama bagi manusia mencakup semua aspek kehidupan manusia baik yang tersirat maupun yang tersurat, yang terperinci maupun yang umum. Diantara kandungan al Qur’an ada ayat-ayat yang berbicara tentang masyarakat.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia masyarkat terdiri dari empat suku kata yaitu ma.sya.ra.kat yang memiliki arti sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.[1] Dalam bahasa inggris disebut dengan society yang memiliki arti kurang lebih sama dengan yang ada dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu a system in which people live together in organized communities; people in general.[2]

Dalam makalah ini akan coba disajikan ayat-ayat yang berbicara tentang masyarakat dan beberapa penafsiran mengenai ayat-ayat tersebut. Dengan harapan kita dapat lebih meyakini al Quran sebagai pedoman kita dan menjadikannya pedoman dalam menjalani kehidupan kita.

Pembahasn

Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial yang yang selalu memiliki ketergantungan, bahkan sejak ia masih berupa segumpal darah dalam rahim seorang wanita. Hal ini tergambar dari wahyu pertama ayat kedua yang diterima oleh Nabi. Sebagaimana yang dijelaskan Quraish Shihab bahwa makna dari khalaqal insana min ‘alaq bukan saja diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau sesuatu yang berdempet di dinding rahim”,  tetapi dapat dipahami juga sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri”. Jadi mnusia akan slalu bergantung pada segala apa yang ada disekitarnya.

Dalam dunia sosial masyarakat, manusia memiliki tingkat kecerdasan, kemampuan dan status sosial yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini juga tergambar dalam Q. s.al Zukhruf 43:32

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Tafsir Mufrodat

ربك = kafnya merujuk kepada Nabi muhammad[3]

معيشتهم, diambil dari kata عيش = penghidupan mereka

سخريا dari kata sukhira atau sukhara = sesuatu yang dipaksa atau diejek.

Dalam tafsir al Quran yang disusun oleh tim departemen agama Republik Indonesia, ayat diatas berbicara mengenai penolakan terhadap keinginan kaum musyrik yang tak mau menerima penunjukan Muhammad sebagai Rasul; dan mereka merasa seakan-akan merekalah yang berhak menentukan siapa yang pantas menerima rahmat. Padahal dalam ayat ini jelas sekali bahwa Allah lah yang berhak dan berwenang mengatur rahmat bagi makhluk hidup.

Adapun hikmah yang dapat diambil dari adanya perbedaan tingkat yang telah diberikan Allah adalah supaya manusia dapat saling membantu antara satu dengan yang lainya dan agar terjadi persaingan. Karena jika tidak ada persaingan dan keinginan untuk saling membantu maka akan terjadi kencuran dan kerusakan di dunia.[4] Karena ssetiap masyarakat memiliki tingkatan yang berbeda-beda maka bukan berarti yang kuat boleh menindas yang lemah, yang satu merasa lebih baik dari yang lain dan kemudian menjelek-jelekannya.

Larangan Saling Menghina Antar Sesama Manusia

Q. s al An’am 6:108

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Tafsir mufradat

تسب, dari kata سب = ucapan yang mengandung makna penghinaan terhadap sesuatu.

الذين= menunjukkan kepada berhala-berhala sesembahan kaum musyrikin.

عدوا = permusuhan dan melampaui batas.

Latar belakang turunnya ayat ini sebagaimana terdapat dalam al Quran dan tafsirnya bahwasanya larangan kaum muslimin memaki berhala sesembahan orang-orang musyrik, karena orang-orang musyrik akan memaki Allah dengan melampaui batas dan mereka akan lebih jauh dari Allah. Pelajaran yang dapat diambil dari tafsiran ini mengenai masyarakat adalah bahwasanya saling memaki-maki antar sesama manusia dilarang oleh agama. Hal tersebut selain merugikan orang lain, dengan tidak disangkapun  pastilah merugikan diri sendiri. Sesuatu perbuatan apabila dipergunakan untuk terwujudnya perbuatan lain yang maksiat, maka seharusnyalah ditinggalkan, dan segala perbuatan yang menimbulkan akibat buruk, maka perbuatan itu terlarang.[5]

Dalam kenyataannya setiap manusia selalu menganggap apa yang mereka kerjakan adalah baik. Ukuran baik dan buruk atas perbuatan biasanya diukur dengan penilian yang timbul dalam manusia sendiri. Hanya saja persoalan seperti ini termasuk persoalan yang ikhtiyari dan Allah telah memberikan naluri kepada manusia agar dapat menilai perbuatan dan kebiasaan tersebut apakah baik ataupun buruk. Adapun Asbab al Nuzul dari ayat diatas berdasarkan hadis berikut:

pada suatu ketika orang-orang islam memaki-maki berhala, sesembahan orang-orang kafir, kemudian mereka dilarang dari memaki-maki itu. (Riwayat Abdurrazak dari Qatadah).[6]

Dalam ayat diatas juga terdapat makna bahwa setiap masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan hidup masing-masing. Setiap masyarakat melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut dan inilah yang melahirkan watak dan yang khas dari setiap masyarakat.[7] Makna tersebut dapat kita temukan pada akhir ayat di atas.

“Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Keadaan masyarakat dengan sistem nilai yang dianutnya mempunyai pengaruh terhadap sikap dan cara pandang masyarakat itu sendiri. Jika sistem nilai yang mereka anut terbatas pada apa yang ada sekarang dan tidak berkembang serta merasa puas dengan apa yang ada, maka upaya dan ambisinya akan berhenti dan tidak ada keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Allah menjajikan masyarakat yang seperti ini memang bisa saja maju. Akan tetapi kemajuannya hanya terbatas pada apa yang telah mereka capai saja, kemudian setelah itu mereka akan jenuh, mandek, akibat rutinitas, kemudian menemui ajalnya[8]. Hal ini tergambar dalam al Quran surat al Isra’ 17:18.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”

Tafsir mufrodat QS. 17: 18.

يريد = menghendaki

العلجلة = dunia

Dalam ayat ini disebutkan dua golongan manusia yaitu golongan yang mencintai kehidupan dunia, dan golongan yang mencintai kehidupan akhirat.[9] Disebutkan juga bahwa Allah akan menyegerakan keinginan manusia atas nikmat yang mereka inginkan.

Kebanyakan Manusia yang hanya memikirkan kenikmatan di dunia sejatinya tidak mempercayai hari kebangkitan dan pembalasan atas semua pekerjaan yang mereka lakukan di dunia. Yang pasti akan diperhitungkan. Haruslah diingat bahwasannya kenikmatan yang didapat di dunia adalah sementara. Itulah sebabnya mengapa Allah menyebutkan kehidupan di dunia dengan kemewahaanya, dapat diperoleh dengan segera akan tetapi segera pula musnah.

Selan itu, Allah mengancam manusia yang hanya memikirkan kemewahan dunia dengan balasan neraka jahnnam karena pada hakikatnya manusia hidup di dunia untuk mencari keridhoan-Nya.

Adapun penafsiran al Qurtubi terhadap ayat ini adalah sebagai berikut:

من كان يريد العاجلة عجلنا له فيها ما نشاء لمن نريد ثم جعلنا له جهنم يصلها مذموما مدحورا ومن أراد الاخرة وسعى لها سعيها وهو مؤمن فأولك كان سعيهم مشكورا قوله تعالى: (من كان يريد العلجلة) يعنى الدنيا، والمراد الدار العاجلة، فعبر بالنعت عن المنعوت.

(عجلنا له فيها ما نشاء لمن نريد) أي لم نعطه منها إلا ما نشاء ثم نؤاخذه بعمله، وعاقبته دخول النار.

(مذموما مدحورا) أي مطردا مبعدا من رحمة الله.

وهذه صفة المنافقين الفاسقين، والمرائين المداجين، يلبسون الاسلام والطاعة لينالوا عاجل الدنيا من الغنائم وغيرها، فلا يقبل ذلك العمل منهم في الآخرة ولا يعطون في الدنيا إلا ما قسم لهم.

وقد تقدم في ” هود أن هذه الآية تقيد الآيات المطلقة، فتأمله.

(ومن أراد الآخرة)

أي الدار الآخرة.

(وسعى لها سعيها) أي عمل لها عملها من الطاعات.

(وهو مؤمن) لان الطاعات لا تقبل إلا من مؤمن.

(فأولئك كان سعيهم مشكورا) أي مقبولا غير

Perubahan Harus Dilakukan dari Diri Sendiri

Q. s. Al Anfal 8:53

“(siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Tafsir mufradat.

لم يك = tidak akan

قوم= kaum atau masyarakat

نفس, bentuk jamak dari أنفس= manusia

Dalam ayat ini Allah ingin menegaskan bahwa Dia tidak akan merubah nikmat suatu kaum, sehingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Selain itu kenikmatan yang diterima oleh suatu kaum ataupun perorangan juga tergantung kepada akhlak dan amal mereka itu sendiri.[10]

Adapun penafsiran yang diberikan al Qurtubi terhadap ayat ini adalah sebagai berikut:

قوله تعالى: ذلك بأن الله لم يك مغيرا نعمة أنعمها على قوم حتى يغيروا ما بأنفسهم وأن الله سميع عليم (53)

تعليل.

أي هذا العقاب، لانهم غيروا وبدلوا، ونعمة الله على قريش الخصب والسعة، والامن والعافية.

” أو لم يروا أنا جعلنا حرما آمنا ويتخطف الناس من حولهم ” [ العنكبوت: 67 ] الآية.

وقال السدي: نعمة الله عليهم محمد صلى الله عليه وسلم فكفروا به، فنقل إلى المدينة وحل بالمشركين العقاب.

قوله تعالى: كدأب آل فرعون والذين من قبلهم كذبوا بآيات ربهم فأهلكنا هم بذنوبهم وأغرقنا آل فرعون وكل كانوا ظالمين ليس هذا بتكرير، لان الاول للعادة في التكذيب، والثاني للعادة في التغيير، وباقي الآية بين.

قوله تعالى: إن شر الدواب عند الله الذين كفروا فهم لا يؤمنون الذين عاهدت منهم ثم ينقضون عهدهم في كل مرة وهم لا يتقون

Penutup

Demikianlah sdikit data yang dapat kami sampaikan mengenai ayat-ayat al Quran yang berkatian dengan masyarakat.

Dengan berbagi keunikan dan tingkatan yang ada antara satu masyarakt dengan masyarakat lainnya adalah merupakn sunnah Allah agar manusia dapat saling membantu dan melengkapi, bukan malah menjadikan satu masyarakat merasa lebih superir dari masyarakat lainnya sehingga merasa berhak untuk memandangnya sebelah mata bahkan menjelek-jelekannya.

Setiap manusia diberikan akal dan kemampuan untuk berusaha maka sudah seharusnyalah manusia itu berusaha untuk terus maju dan memperbaiki hidupnaya karena perubahan juga terganntung kepada diri kita.

Semoga bermanfaat…

Daftar pustaka

Kamus besar bahasa Indonesia, Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

A S Hornby, oxford advanced learner’s dictionary, fifth edition, oxford university press, 1995

M. Quraish Shihab. Wawasan al Quran, Bandung: mizan, 2007.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya , jilid III,Yogyakarta: PT Dana bhakti wakaf [milik badan wakaf UII], 1990.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz IV.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz V.

Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz IX.


[1] Kamus besar bahasa Indonesia, Edisi ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2005),  hal. 721.

[2] A S Hornby, oxford advanced learner’s dictionary, fifth edition (oxford university press, 1995), hal. 1128.

[3] bertujuan menekankan serta menggarisbawahi bahwasannya pemeliharan dan bimbingan Allah selalu tertuju kepada beliau, dan bahwa pemilihan beliau sebagai penerimaan dan penyampaian al-Qur’an adalah berdasarkan pilihan Allah.

[4] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya ,jilid IX (Yogyakarta: PT Dana bhakti wakaf [milik badan wakaf UII], 1990), hal. 114

[5] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz III, hlm. 242

[6] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz III, hlm. 242

[7] M. Quraish Shihab. Wawasan al Quran, (Bandung: mizan, 2007), hal. 423

[8] M. Quraish Shihab. Wawasan al Quran hal. 423

[9] Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz V,  hlm. 546

[10]Departemen agama Republik Indonesia, al Quran dan tafsirnya, juz IV, hal. 19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.