TADZHIBU TAHDZHIB AL KAMAL FI ASMA AL RIJAL
sekelumit salah satu karya terbesar al Dzahabi
,
Pendahuluan
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk al Quran dan al hadis sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan ini.
Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang mendapatkan amanat dari tuhan untuk menyampaikan al Quran dan Hadis sehingga kita bisa benar-benar merasakan dan memahami petunjuk-petunjuk Allah yang beliau sampaikan.
Dari kedua petunjuk yang menjadi pegangan kita ternyata memiliki kesenjangan dalam kedudukan secara penerimaan autentisitasnya di dalam ummat Islam. Semua orang Islam, tidak meragukan autentisitas nash al Quran. Sedangkan hadis, ada orang Islam yang meragukannya sehingga penyeleksian terhadap hadis sebelum diterima dan diamalkan sangatlah ketat sekali.
Keautentisitasan hadis biasanya dilihat dari keshahihan sanad dan matannya. Dari segi sanad maka maka para perawinya diteliti kehidupan dan seluk-beluknya apakah memililki kecacatan ataukah tidak yang dapat mempengaruhi terhadap hadis yang diriwayatkan. Salah satu kitab yang membahas tentang kehidupan para perawi hadis adalah kitab tadzhibu tahdzhib al kamal fi asma al Rijal karya al Dzahabi.
Dalam makalah ini akan disampaikan tentang siapa al Dzabi dan salah satu karya pentingnya dalam bidang hadis tadi.
Pembahasan
Biografi Imam Al Dzahabi
Al Dzahabi adalah seorang ulama besar islam dan merupakan salah seorang yang paling tinggi ilmunya pada masa beliau hidup. Nama lengkap beliau adalah Muhammmmd bin ‘Usman bin Qaimaz bin al Syaikh ‘Abdullah al Turkmaani al Fariqi al Dimasyqi bin al Zahabi. Beliau juga memiliki kuniyah Abi Abdillah dan beliau juga sering dikenal dengan nama Syamsy al Din.
Beliau dilahirkan pada tahun 673 H di desa Kafarbathna, yakni salah satu desa yang ada di Damaskus. Beliau dikenal dengan kekuatan hafalan, kecerdasan, kewara’an, kezuhudan, kelurusan aqidah dan kefasihan lisannya. Nama al Dzahabi merupakan panggilan yang yang dinisbatkan kepada pekerjaan bapaknya.
Beliau menuntut ilmu sejak usia dini dan ketika berusia 18 tahun menekankan perhatian pada dua bidang ilmu: Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadits Nabawi. Beliau menempuh perjalanan yang jauh dalam mencari ilmu ke Syam, Mesir, dan Hijaz (Makkah dan Madinah). Beliau mengambil ilmu dari para ulama di negeri-negeri tersebut.
Imam al Dzahabi wafat pada malam Senin, 3 Dzulqa’dah 748 H, di Damaskus, Suriah dan dimakamkan di pekuburan Bab ash-Shaghir.
Pujian Para Ulama Kepada Beliau
1. Al Imam Ibnu Nashruddin al Dimasyqi berkata, “Beliau adalah Ayat (tanda kebesaran Allah) dalam ilmu rijal, sandaran dalam jarh wa ta’dil karena mengetahui cabang dan pokoknya, imam dalam qiraat, faqih dalam pemikiran, sangat paham dengan madzhab-madzhab para imam dan para pemilik pemikiran, penyebar sunnah dan madzhab salaf di kalangan generasi yang datang belakangan.” (Raddul Wafir, hal. 13) Ibnu Katsir rohimahullohu berkata, “Beliau adalah Syaikh al-Hafizh al-kabir, Pakar Tarikh Islam, Syaikhul muhadditsin ……beliau adalah penutup syuyukh hadits dan huffazhnya.” (al-Bidayah wa an-Nihayah, XIV:225)
2. Tajuddin al Subki berkata, “Beliau adalah syaikh Jarh wa Ta’dil, pakar Rijal, seakan-akan umat ini dikumpulkan di satu tempat kemudian beliau melihat dan mengungkapkan sejarah mereka”.
3. Ash-Shafadi rohimahullohu berkata, “Beliau seorang hafizh yang tidak tertandingi, penceramah yang tidak tersaingi, mumpuni dalam hadits dan rijalnya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang ‘illah dan keadaan-keadaannya, memiliki pengetahuan yang sempurna tentang biografi manusia. Menghilangkan ketidakjelasan dan kekaburan dalam sejarah manusia. Beliau memiliki akal yang cerdas, benarlah nisbahnya kepada dzahab (emas). Beliau mengumpulkan banyak bidang ilmu, memberi manfaat yang banyak kepada manusia, banyak memiliki karya ilmiah, lebih mengutamakan hal yang ringkas dalam tulisannya dan tidak berpanjang lebar. Aku telah bertemu dan berguru kepadanya, dan membaca banyak dari tulisan-tulisannya di bawah bimbingannya. Aku tidak menjumpai padanya kejumudan, bahkan dia adalah faqih dalam pandangannya, memiliki banyak pengetahuan tentang perkataan-perkataan ulama, madzhab-madzahab para imam salaf dan para pemilik pemikiran”.
Tentang tadzhibu tahdzhib al kamal fi asma al Rijal
Penulisan kitab ini berdasarkan permintaan dari orang-orang dekat al Dzahabi yang menginginkan adanya ringkasan atas kitab tahdzib al kamal. Pada awalnya beliau menolak perminataan tersebut dengan alasan bahwa jika beliau menulis syarh dari kitab ini justru akan lebih baik daripada membuat ikhtisar yang akan mengurangi isi kitab. Namun kemudian beliau berfikir ulang dan merasa kurang dalam keilmuannya serta kebutuhan akan adanya ikhtisar terhadap kitab ini sangat dibutuhkan, maka beliaupun meringkasnya.
Kitab tadzhibu tahdzhib al kamal fi asma al Rijal karya al Dzahabi ini sebenarnya masih dalam bentuk makhthuthat seblum diterbitkan oleh penerbit al Faruq al Hadisiah li al thiba’ah wa al Nashr. Manuskrip yang diterima oleh penerbit tediri dari enam manuskrip, tiga diantaranya ditulis pada masa al Dzahabi dan salah satunya merupakan tulisan tangan al Dzahabi sendiri. Kemudian dalam usaha pentahkikan manuskrip ini sebelum diterbitkan, tim pentahkik menambahkan mukadimah sebagai panduan untuk memahami kitab dan ditambahkan index sebagaimana lazimnya sebuah karya ilmiah. Kitab ini sebenarnya merupakan mukhtashar dari kitab tahdzib al kamal karya Abi al Hajjaj al Mazi dan terdiri dari sebelas jilid. Kitab ini berisi tentang informasi para perawi yang ada di dalam al kutub al sittah.
Adapun dalam sistematika penyusunan perawi hadis dalam kitab ini disusun secara alfabetis, diawali oleh Ahmad bin Ibrahim bin Khalid Abu Ali al Maushuli pada huruf al Alif dan diakhiri oleh Yunus al Iskaf pada huruf al Ya. Ada sekitar 8863 perawi yang di bahas dalam kitab ini, termasuk perawi wanita kuniyah dll.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa kitab ini terdiri dari sebelas jilid. Jilid yang pertama berisikan tiga bab, yakni bab pertama yang berisiskan mengenai al Imam al Dzahabi, bab kedua berisikan informasi mengenai kitab tadzhibu al Tahdzib, dan bab ketiga berisikan informasi mengenai penguatan bahwa kitab ini benar-benar karya al Dzahadi dan informasi mengenai manuskrip yang diterima tim pentahkik. Dalam jilid pertama ini juga sudah ada informasi mengenai para perawi yang namanaya berawalan huruf alif.
Adapun jilid kedua sampai jilid kesepuluh berisikan informasi mengenai para perawi yang namanya berawalan huruf al ba hingga al ya yang disusun secara alfabetis. Pada jilid kesepuluh ini juga berisikan informasi mengenai kuniyah para rijal yang juga disusun secara alfabetis.
Sedangkan pada jilid kesebelas berisikan informasi-informasi lain mengenai para rijal, seperti para rijal yang dikenal dengan anak dari seseorang atau rijal yang dikenal dengan nasabnya dan lain-lain. Dalam jilid ini juga terdapat bab yang secara khusus membahas mengenai para periwayat wanita dan ditutup dengan indeks.
Kelebihan-kelebihan yang ada dalam kitab tadzhibu tahdzib
Ada beberapa kelebiahan dalam kitab ini jika dibandingkan dengan kitab tahdzib al Kamal, diantaranya:
Ø Menjelaskan perawi yang mubham
Ø Merinci hal-hal yang masih umum
Ø Menghilangkan keragu-raguan
Ø Memperbaiki kesalahan
Ø Menjelaskan aqidah para perawi
Ø Menjelaskan hadis-hadis yang dhaif daj shahih
Ø Melengkapi nama-nama para perawi
Ø Melengkapi nama guru-guru dan murid-murid perawi
Ø Melakukan aktifitas jarh wa ta’dil bagi sebagian perawi
Penutup
Demikian sedikit yang bisa penyusun hadirkan tentang bagaimana al Dzahabi dan salah satu karya beliau yang sangat fenomenal dalam bidang hadis Kitab tadzhibu tahdzhib al kamal fi asma al Rijal. Masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dikaji kembali, mohon maaf atas segala kesalah dan kekurangan dalam tulisan ini.
semoga dapat menambah wawasan kita. Aami..n
Daftar Pustaka
Al Dzahabi, Syamsyu al Din ‘Abdillah, tadzhibu tahdzhib al kamal fi asma al Rijal, al Faruq al Hadisiah li al thiba’ah wa al Nashr, 2004.
http//www.aditya06.wordpress.com/mengenal-lebih-dekat-imam-adz-dzahabi-rohimahullohu, diakses pada 01 Desember 2009, pkl. 11:24.